Blog

pt equityworld futures trillium surabaya

PT EQUITYWORLD FUTURES CIREBON – Dolar AS Melemah, Pasar Global Berguncang: Emas Tembus $5.000, Yen Mengamuk

01:17 26 January in Commodity, Gold
0 Comments
0

Attention

Pasar keuangan global kembali diguncang oleh satu pemicu utama: dolar AS yang melemah tajam. Dampaknya langsung terasa ke mana-mana—yen Jepang melonjak agresif, futures indeks saham AS tertekan, dan emas menembus level psikologis $5.000 per ons untuk pertama kalinya dalam sejarah. Ini bukan sekadar fluktuasi harian biasa. Ini sinyal bahwa pasar sedang membaca risiko besar di balik kebijakan Amerika Serikat.

Greenback tercatat turun terhadap seluruh mata uang Group-of-10. Yen bahkan sempat menguat hampir 1% ke level 154,22 per dolar, memicu spekulasi luas bahwa otoritas Jepang siap turun tangan. Di saat yang sama, futures S&P 500 melemah 0,5%, menandakan investor mulai mengurangi eksposur ke aset AS. Ketika dolar melemah, emas justru tancap gas—dan kali ini, tembus rekor yang belum pernah disentuh sebelumnya.

Interest

Pemicu pergerakan ini bukan satu faktor tunggal, melainkan kombinasi sinyal kebijakan dan ketegangan geopolitik yang menumpuk. Pada Jumat, trader melaporkan bahwa Federal Reserve Bank of New York menghubungi sejumlah institusi keuangan untuk menanyakan kurs yen. Langkah yang terkesan sederhana ini justru memicu tafsir besar di pasar: The Fed dinilai sedang “cek ombak” untuk membuka ruang koordinasi dengan Jepang jika intervensi mata uang diperlukan.

Kekhawatiran pasar makin memuncak ketika pada Minggu, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menegaskan bahwa pemerintah siap mengambil tindakan jika volatilitas yen berlebihan. Kombinasi sinyal dari Tokyo dan New York ini langsung mengubah arah transaksi global.

Di sisi lain, Bloomberg Dollar Spot Index jatuh ke level terendah sejak September, mempertegas tekanan terhadap dolar. Investor membaca pelemahan ini sebagai refleksi dari meningkatnya ketidakpastian kebijakan AS—mulai dari isu fiskal hingga tekanan politik terhadap bank sentral.

Kondisi makin rumit dengan munculnya kembali risiko shutdown pemerintah AS, serta ancaman Presiden Donald Trump untuk memberlakukan tarif 100% atas impor dari Kanada. Ancaman tarif baru ini bukan hanya berpotensi memicu perang dagang, tetapi juga memperburuk persepsi terhadap stabilitas ekonomi AS.

Desire

Ketika dolar goyah, arus modal global pun mulai bergeser. Investor kembali mencari aset yang dianggap paling “netral” dan aman—dan emas menjadi pemenang utama. Lonjakan emas di atas $5.000 per ons bukan sekadar reaksi jangka pendek, melainkan cerminan ketidakpercayaan pasar terhadap arah kebijakan moneter dan fiskal AS.

Tekanan terhadap dolar bahkan disebut sebagai yang terdalam sejak Mei. Vaibhav Loomba dari Klay Group menilai US Dollar Index masih berpotensi turun 3%–5% hingga akhir Juni, dengan tarif dan isu independensi The Fed sebagai faktor utama. Menurutnya, kekhawatiran soal independensi bank sentral AS tidak akan benar-benar mereda setidaknya hingga pertengahan Mei.

Efek domino juga terasa kuat di Asia. Ringgit Malaysia menguat ke posisi terkuat terhadap dolar sejak 2018, sementara won Korea Selatan melonjak 1,2%. Mata uang Asia kembali bernapas lega setelah lama tertekan oleh dominasi dolar.

Di pasar obligasi, US Treasury ikut menguat. Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun 1 basis poin ke 4,21%, mencerminkan meningkatnya permintaan aset aman. Pasar kini bersiap menghadapi keputusan The Fed yang diperkirakan akan menahan suku bunga tetap pada Rabu, sambil mencermati laporan keuangan raksasa teknologi seperti Microsoft dan Tesla.

Dan bukan cuma emas—perak juga menunjukkan euforia luar biasa, bahkan sempat menembus $100 per ons minggu lalu, menandai reli logam mulia yang makin tak terbendung.

Action

Bagi pelaku pasar, pesan dari pergerakan ini sangat jelas: volatilitas belum selesai, dan risiko global justru sedang meningkat. Pelemahan dolar bukan hanya soal nilai tukar, tapi cerminan ketidakpastian struktural di jantung sistem keuangan dunia.

Investor yang terlalu bergantung pada aset berbasis dolar kini mulai menghadapi kenyataan pahit. Diversifikasi ke aset lindung nilai seperti emas dan perak bukan lagi pilihan defensif, melainkan strategi utama. Di sisi lain, pasar saham AS berpotensi tetap tertekan selama isu tarif, politik fiskal, dan independensi The Fed belum menemukan titik terang.

Satu hal yang pasti: ketika emas mencetak sejarah di atas $5.000 per ons, pasar sedang mengirim sinyal keras. Dunia keuangan tengah memasuki fase baru—di mana kepercayaan terhadap dolar diuji, dan aset aman kembali menjadi raja.

(Sumber: Newsmaker.id)

Kunjungin Website Trading Legal Terpercaya, dengan pengalaman lebih dari 15 tahun

No Comments

Post a Comment