PT EQUITYWORLD FUTURES CIREBON – Emas Bangkit Lagi! Tembus $5.000, Dip-Buyers Kembali Berkuasa di Tengah Pasar yang Masih “Goyang”
Attention
Setelah sempat bikin jantung pasar copot naik-turun ekstrem, harga emas akhirnya menunjukkan taringnya lagi. Logam mulia ini kembali menembus level psikologis $5.000 per ons, sebuah angka yang bukan cuma simbolis, tapi juga penuh muatan emosi bagi pelaku pasar. Di awal perdagangan Asia, spot gold bahkan sempat menguat hingga 1,7% ke area $5.028 per ons, menandai kembalinya para pemburu harga murah (dip-buyers) setelah sepekan volatilitas brutal. Perak pun ikut terseret naik, menambah kesan bahwa sentimen risk-off belum sepenuhnya pergi dari radar investor global.
Pergerakan ini langsung menyedot perhatian. Setelah reli besar di Januari yang diikuti kejatuhan tajam, banyak yang mulai bertanya: apakah ini sekadar technical rebound, atau justru awal babak baru untuk emas?
Interest
Salah satu katalis penting datang dari Asia—tepatnya Jepang. Kemenangan telak Perdana Menteri Sanae Takaichi memperkuat keyakinan pasar bahwa kebijakan fiskal Jepang ke depan akan cenderung lebih longgar. Ekspektasi stimulus dan belanja pemerintah yang agresif membuat yen tetap berada di bawah tekanan. Dalam kondisi seperti ini, emas sering kali mendapat “bonus daya tarik” sebagai penyimpan nilai ketika mata uang fiat melemah.
Kombinasi yen yang rapuh dan ketidakpastian global menciptakan lingkungan yang relatif ramah bagi emas. Investor kembali mengingat fungsi klasik emas: bukan cuma aset spekulatif, tapi juga lindung nilai saat kebijakan moneter dan fiskal makin longgar.
Di sisi lain, reli kali ini juga tak bisa dilepaskan dari faktor teknikal. Setelah harga emas anjlok tajam dari rekor tertinggi akhir Januari, banyak posisi leverage yang terpaksa dilikuidasi. Begitu tekanan jual mereda, dip-buyers mulai masuk, memanfaatkan harga yang dinilai “diskon” dibanding puncaknya.
Desire
Meski emas masih sekitar 11% di bawah puncak 29 Januari, performanya secara year-to-date tetap solid dengan kenaikan sekitar 15%. Ini menjadi sinyal penting: koreksi kemarin lebih mirip proses “pembersihan pasar” ketimbang pembalikan tren jangka panjang.
Sejumlah analis bahkan menilai kejatuhan sebelumnya diperparah oleh aksi spekulatif berlebihan, termasuk sorotan terhadap aktivitas trader China yang ikut memperbesar amplitudo pergerakan. Saat euforia terlalu panas, koreksi tajam hampir selalu jadi konsekuensi. Namun justru dari fase seperti inilah fondasi tren yang lebih sehat biasanya terbentuk.
Fakta bahwa emas kini sudah memangkas sekitar setengah dari penurunan pasca-rout menunjukkan satu hal: permintaan jangka panjang belum pergi ke mana-mana. Bukti paling nyata datang dari sektor resmi. Bank sentral China tercatat melanjutkan pembelian emas untuk bulan ke-15 berturut-turut, sebuah sinyal kuat bahwa emas masih menjadi bagian penting dari strategi diversifikasi cadangan devisa.
Permintaan bank sentral ini bukan pemain jangka pendek. Mereka tidak membeli karena harga “lagi naik hari ini”, melainkan karena pandangan strategis terhadap risiko mata uang, geopolitik, dan stabilitas sistem keuangan global. Selama aliran ini berlanjut, emas punya bantalan yang cukup kokoh setiap kali pasar kembali terguncang.
Action
Ke depan, fokus pasar bakal tertuju ke Amerika Serikat. Data tenaga kerja Januari yang rilis Rabu dan data inflasi pada Jumat akan menjadi kompas utama untuk membaca arah kebijakan suku bunga The Fed. Setiap kejutan—baik dari sisi upah, inflasi inti, maupun kekuatan pasar tenaga kerja—berpotensi memicu volatilitas lanjutan di emas, dolar, dan obligasi.
Di luar data ekonomi, isu independensi The Fed kembali mencuat setelah Kevin Warsh menyinggung perlunya kesepakatan baru antara bank sentral dan Departemen Keuangan AS. Topik sensitif ini menjadi “bumbu tambahan” yang bisa memperbesar ketidakpastian kebijakan moneter ke depan.
Bagi pelaku pasar, kondisinya jelas: emas masih berada di fase “choppy”, naik-turun cepat dengan sentimen yang mudah berubah. Namun selama harga mampu bertahan di atas level psikologis $5.000, narasi emas sebagai aset lindung nilai utama belum runtuh. Justru, bagi investor yang sabar dan disiplin, volatilitas seperti ini sering kali membuka peluang—bukan ancaman.
Satu hal yang pasti: emas belum selesai bercerita. Dan pasar, sekali lagi, harus siap dengan bab berikutnya.
Sumber: Newsmaker.id
Kunjungin Website Trading Legal Terpercaya, dengan pengalaman lebih dari 15 tahun
No Comments