Blog

PT EQUITYWORLD FUTURES CIREBON – Emas Terkoreksi Usai Data Tenaga Kerja AS Kuat, Harapan Rate Cut Memudar?

03:38 12 February in Gold, Market Review
0 Comments
0

Attention Harga emas kembali terseret turun setelah rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat menunjukkan performa yang jauh lebih kuat dari perkiraan pasar. Kondisi ini langsung mengubah sentimen investor global, yang sebelumnya berharap Federal Reserve segera membuka pintu pemangkasan suku bunga. Alih-alih melihat pelonggaran kebijakan, pelaku pasar kini justru bersiap menghadapi kemungkinan suku bunga tinggi bertahan lebih lama.

Pada perdagangan Kamis, harga emas sempat melemah hingga 0,8% setelah sehari sebelumnya menguat 1,2%. Pergerakan ini menegaskan betapa sensitifnya logam mulia terhadap perubahan ekspektasi kebijakan moneter AS. Laporan terbaru menunjukkan payroll Amerika mencatat kenaikan terbesar dalam lebih dari setahun, sementara tingkat pengangguran secara tak terduga turun pada Januari. Data tersebut menjadi sinyal bahwa pasar tenaga kerja masih kokoh memasuki awal 2026.

Kekuatan ekonomi seperti ini biasanya menjadi alasan bagi bank sentral untuk tidak terburu-buru memangkas suku bunga. Bagi emas, situasi tersebut bukan kabar baik.

Interest Pasar dengan cepat menyesuaikan proyeksi. Jika sebelumnya banyak analis memperkirakan pemangkasan suku bunga bisa terjadi pada Juni, kini ekspektasi itu mundur ke Juli. Pergeseran ini tampak kecil, tetapi dampaknya sangat besar terhadap harga emas.

Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil atau bunga, emas cenderung lebih menarik ketika suku bunga rendah. Saat suku bunga tinggi, investor memiliki lebih banyak alternatif yang menawarkan return, seperti obligasi pemerintah atau instrumen pasar uang. Akibatnya, daya tarik emas bisa berkurang dalam jangka pendek.

Namun menariknya, tekanan terhadap emas masih tergolong terbatas. Harga tetap bertahan di atas level psikologis $5.000 per ons—sebuah zona yang kini dianggap sebagai area support penting oleh banyak trader. Bahkan setelah aksi jual tajam di awal bulan, emas berhasil memulihkan sekitar setengah dari kerugiannya.

Sebelumnya, logam kuning ini sempat mencetak rekor spektakuler di atas $5.595 pada akhir Januari. Reli yang terlalu cepat, didorong oleh spekulasi besar-besaran, membuat pasar menjadi “overheated.” Ketika investor mulai mengambil untung, harga pun terkoreksi drastis—bahkan turun sekitar 13% hanya dalam dua sesi. Meski terdengar ekstrem, pola seperti ini bukan hal baru dalam siklus bullish komoditas.

Desire Di tengah koreksi jangka pendek, sejumlah institusi keuangan besar tetap mempertahankan pandangan positif terhadap prospek emas. Mereka menilai faktor-faktor fundamental yang selama ini mendorong reli belum benar-benar hilang.

Ketidakpastian geopolitik masih menjadi tema besar yang membayangi ekonomi global. Selain itu, isu mengenai independensi bank sentral AS serta meningkatnya kecenderungan investor untuk mengurangi eksposur pada aset tradisional seperti mata uang fiat dan obligasi pemerintah turut memperkuat argumen bullish.

BNP Paribas bahkan melihat peluang emas menembus level $6.000 pada akhir tahun jika kondisi makro tetap mendukung. Deutsche Bank dan Goldman Sachs juga masih berada di jalur optimistis, menilai setiap koreksi justru bisa menjadi peluang akumulasi bagi investor jangka panjang.

Dengan kata lain, pelemahan saat ini lebih terlihat sebagai fase konsolidasi daripada tanda pembalikan tren besar.

Sementara itu, cerita berbeda terjadi pada perak. Logam ini mengalami tekanan lebih dalam dibanding emas, dengan penurunan sempat mencapai 3,2% pada Kamis. Volatilitas tinggi memang menjadi karakter khas perak, mengingat ukuran pasarnya lebih kecil dan likuiditasnya lebih tipis.

Dalam beberapa pekan terakhir, pergerakan perak bahkan disebut sebagai yang paling ekstrem sejak 1980. Harga kini berada sekitar sepertiga di bawah rekor tertinggi sepanjang masa yang tercapai pada 29 Januari.

Padahal sebelumnya perak sempat melonjak 4,3%, didorong laporan The Silver Institute yang memperkirakan pasar akan kembali mengalami defisit untuk tahun keenam berturut-turut. Permintaan investasi dinilai cukup kuat untuk mengimbangi melemahnya permintaan perhiasan serta berbagai upaya industri mengurangi penggunaan perak, termasuk di sektor panel surya.

Di China, pasokan juga dilaporkan masih ketat karena tingginya permintaan dari sektor investasi dan manufaktur. Bahkan, Shanghai Futures Exchange dikabarkan mempertimbangkan pembatasan bagi pihak tertentu yang menggunakan kontrak berjangka untuk lindung nilai agar tidak membawa kontrak hingga tahap penyerahan fisik. Langkah ini bertujuan menahan arus keluar stok dari gudang.

Action Bagi investor, situasi ini menegaskan pentingnya membaca arah kebijakan moneter sekaligus memahami dinamika jangka panjang pasar logam mulia. Data ekonomi yang kuat memang bisa menekan harga dalam waktu singkat, tetapi fondasi makro yang mendukung emas tampaknya masih kokoh.

Pada pukul 09:59 waktu Singapura, emas spot tercatat turun 0,5% ke $5.061,73 per ons. Perak melemah 1,1% ke $83,39, sementara platinum turun 0,4% dan palladium terkoreksi 0,3%. Indeks dolar Bloomberg juga sedikit melemah 0,1%, memberikan gambaran bahwa pasar masih mencari keseimbangan baru.

Ke depan, investor perlu mencermati setiap rilis data ekonomi AS—terutama inflasi dan tenaga kerja—karena keduanya akan menjadi kompas utama bagi langkah Federal Reserve. Jika ekonomi tetap kuat, volatilitas kemungkinan masih akan mewarnai perjalanan emas. Namun bila tanda-tanda perlambatan mulai muncul, bukan tidak mungkin logam mulia kembali menyalakan mesin reli.

Pertanyaannya sekarang: apakah koreksi ini sekadar jeda sebelum emas melanjutkan pendakian, atau awal dari fase pergerakan yang lebih tenang? Bagi investor yang jeli, setiap gejolak pasar selalu menghadirkan dua hal sekaligus—risiko dan peluang.

Sumber: Newsmaker.id 

Kunjungin Website Trading Legal Terpercaya, dengan pengalaman lebih dari 15 tahun

No Comments

Post a Comment