Emas Bertahan di Atas US$4.000, Lonjakan Harga Minyak
Harga emas masih menjadi perhatian investor global. Pada perdagangan Jumat (24/07), harga emas bertahan di sekitar US$4.043 per troy ounce. Meski demikian, logam mulia ini masih berada di bawah tekanan setelah turun hampir 2% pada sesi sebelumnya.
Pelemahan tersebut menghapus sebagian besar kenaikan yang terjadi dalam dua hari terakhir. Sebelumnya, emas sempat menguat karena investor memanfaatkan penurunan harga untuk melakukan aksi buy on dip.
Kini fokus pasar beralih ke lonjakan harga minyak, arah suku bunga Federal Reserve (The Fed), dan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Ketiga faktor tersebut diperkirakan akan menjadi penentu utama pergerakan harga emas dalam waktu dekat.
Harga Emas Bertahan, tetapi Tekanan Belum Berakhir
Harga emas spot tercatat stabil di kisaran US$4.048,25 per troy ounce. Bertahannya harga di atas level psikologis US$4.000 menunjukkan bahwa minat terhadap aset safe haven masih cukup kuat.
Namun, tekanan belum sepenuhnya hilang. Investor mulai mengurangi ekspektasi kenaikan emas karena peluang suku bunga tinggi kembali meningkat.
Bagi emas, kenaikan suku bunga merupakan sentimen negatif. Logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi atau deposito. Akibatnya, investor cenderung memindahkan dana ke aset yang menawarkan return lebih tinggi.
Lonjakan Harga Minyak Tingkatkan Risiko Inflasi
Salah satu penyebab utama tekanan terhadap emas adalah melonjaknya harga minyak dunia.
Harga minyak Brent berhasil menembus US$100 per barel. Ini menjadi level tertinggi sejak Mei. Kenaikan tersebut dipicu oleh konflik yang kembali memanas di Timur Tengah.
Harga energi yang lebih tinggi berpotensi mendorong inflasi. Biaya transportasi, produksi, dan distribusi ikut meningkat. Jika kondisi ini berlangsung lama, tekanan harga akan semakin besar.
Inflasi yang tinggi membuat bank sentral lebih sulit menurunkan suku bunga. Bahkan, peluang kenaikan suku bunga kembali terbuka.
Inilah alasan mengapa lonjakan harga minyak justru menjadi kabar kurang baik bagi harga emas.
The Fed Berpotensi Kembali Naikkan Suku Bunga
Pasar kini semakin yakin bahwa Federal Reserve belum selesai memperketat kebijakan moneternya.
Data pasar swap menunjukkan peluang sekitar 34% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada pertemuan pekan depan.
Selain itu, pelaku pasar juga telah memperhitungkan setidaknya satu kenaikan suku bunga lagi pada September. Bahkan, masih ada peluang tambahan sebelum akhir tahun.
Ekspektasi tersebut terlihat dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun. Yield tersebut telah naik selama enam hari berturut-turut.
Kondisi ini membuat dolar AS tetap kuat. Penguatan dolar biasanya membatasi kenaikan harga emas karena membuat logam mulia menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.
Konflik Timur Tengah Masih Jadi Pendukung Safe Haven
Di tengah tekanan suku bunga, faktor geopolitik masih memberikan dukungan terhadap emas.
Ketegangan kembali meningkat setelah Presiden Donald Trump mengancam akan memperluas serangan terhadap Iran.
Pemerintah Amerika Serikat juga mengumumkan tarif impor baru sebesar 10% hingga 12,5% terhadap sebagian besar mitra dagang utamanya.
Kebijakan tersebut meningkatkan ketidakpastian ekonomi global. Dalam situasi seperti ini, investor biasanya mencari aset yang dianggap lebih aman, termasuk emas.
Meski demikian, pengaruh sentimen safe haven saat ini masih kalah kuat dibandingkan kekhawatiran kenaikan suku bunga.
Perak Ikut Tertekan
Tekanan tidak hanya terjadi pada emas.
Harga perak berada di sekitar US$57,62 per troy ounce. Sebelumnya, logam ini turun sekitar 3,6% dalam satu sesi perdagangan.
Pelemahan perak menunjukkan bahwa tekanan berasal dari perubahan ekspektasi kebijakan moneter. Bukan hanya karena faktor permintaan logam mulia.
Selama The Fed masih bersikap hawkish, ruang kenaikan emas dan perak diperkirakan tetap terbatas.
Level US$4.000 Menjadi Penopang Penting
Meski menghadapi tekanan, level US$4.000 per troy ounce masih menjadi area support yang penting.
Selama harga mampu bertahan di atas level tersebut, peluang rebound masih terbuka. Terlebih jika ketegangan geopolitik kembali meningkat atau data ekonomi Amerika Serikat melemah.
Sebaliknya, jika harga minyak terus naik dan ekspektasi suku bunga semakin tinggi, emas berpotensi kembali melemah.
Karena itu, investor perlu memperhatikan perkembangan konflik Timur Tengah, pergerakan harga minyak, serta keputusan Federal Reserve.
Prospek Harga Emas Masih Volatil
Prospek harga emas dalam jangka pendek diperkirakan masih bergerak fluktuatif. Sentimen pasar saat ini terbagi antara meningkatnya permintaan aset safe haven dan kekhawatiran terhadap suku bunga tinggi.
Selama harga energi tetap mahal dan inflasi belum mereda, The Fed diperkirakan akan mempertahankan kebijakan ketat. Kondisi tersebut dapat membatasi kenaikan harga emas.
Meski begitu, level US$4.000 masih menjadi fondasi penting bagi pergerakan emas. Jika level tersebut mampu dipertahankan, peluang pemulihan harga tetap terbuka dalam beberapa pekan mendatang.
Tim Riset Equityworld Futures berdasarkan data pasar dan pemberitaan terbuka. Bukan rekomendasi investasi.
Layanan Resmi PT Equityworld Futures:
- Website Resmi
Informasi: Artikel ini ditulis ole
- Akun Demo Trading
- Kontak Resmi
* Trading futures berisiko tinggi. Pastikan Anda memahami sepenuhnya risiko yang ada.