Blog

Emas Stabil di Bawah US$4.400, Pasar Timbang Fed dan Hormuz

09:13 14 August in Gold, Market Update
0 Comments
0
0 0
Read Time:4 Minute, 39 Second

Harga emas kembali menjadi perhatian pasar pada perdagangan Jumat (14/08) setelah mengalami koreksi dari level tertinggi dalam 10 minggu. Emas spot bergerak stabil dan naik tipis sekitar 0,2% ke area US$4.359,73 per troy ons. Meski terkoreksi 1,3% pada sesi sebelumnya, logam mulia ini masih berada di jalur kenaikan untuk pekan kedua berturut-turut.

Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa minat investor terhadap emas belum sepenuhnya kehilangan tenaga. Pasar kini berada dalam fase penting karena harus menimbang dua faktor utama sekaligus, yakni arah kebijakan Federal Reserve dan perkembangan geopolitik di sekitar Selat Hormuz.

Inflasi AS Redakan Kekhawatiran Fed Hike

Salah satu penopang utama harga emas saat ini berasal dari perkembangan inflasi Amerika Serikat. Data inflasi Juli menunjukkan tekanan harga relatif terkendali sehingga kekhawatiran terhadap kebutuhan Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga secara agresif mulai mereda.

Perlambatan tekanan harga juga memberikan indikasi bahwa dampak lonjakan energi yang sebelumnya dipicu konflik Iran mulai berkurang. Kondisi tersebut menjadi kabar positif bagi emas karena suku bunga yang lebih rendah atau ekspektasi kebijakan moneter yang lebih longgar dapat mengurangi daya tarik aset berbasis imbal hasil seperti obligasi dan deposito.

Pasar uang saat ini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September hanya sekitar sepertiga. Perubahan ekspektasi ini cukup signifikan dibandingkan kekhawatiran sebelumnya ketika pasar mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga akibat tekanan inflasi.

Bagi emas, semakin rendah peluang Fed hike, semakin besar ruang bagi harga untuk mempertahankan penguatan. Namun, investor masih membutuhkan konfirmasi dari data ekonomi berikutnya sebelum mengambil posisi lebih agresif.

Data Tenaga Kerja dan Jackson Hole Jadi Perhatian

Setelah data inflasi menjadi perhatian utama, fokus pasar selanjutnya beralih ke indikator tenaga kerja Amerika Serikat. Data tersebut akan membantu investor menilai apakah perekonomian mulai kehilangan momentum dan apakah kondisi tersebut dapat memberikan alasan bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan suku bunga tanpa kenaikan tambahan.

Selain data ekonomi, pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh di simposium Jackson Hole pada akhir Agustus juga akan menjadi katalis penting. Investor akan mencari petunjuk mengenai bagaimana bank sentral melihat keseimbangan antara risiko inflasi dan perlambatan ekonomi.

Jika Warsh memberikan sinyal bahwa kebijakan moneter dapat menjadi lebih longgar, emas berpotensi kembali mendapatkan momentum. Sebaliknya, pernyataan hawkish yang menegaskan bahwa suku bunga perlu dipertahankan tinggi lebih lama dapat membatasi kenaikan harga emas.

Yield Tinggi Masih Menjadi Risiko

Meskipun ekspektasi Fed hike mulai menurun, emas belum sepenuhnya terbebas dari tekanan suku bunga. Yield obligasi Amerika Serikat yang tetap tinggi masih menjadi tantangan bagi logam mulia.

Emas tidak memberikan pembayaran bunga. Karena itu, ketika yield Treasury meningkat, investor memiliki alternatif aset yang menawarkan imbal hasil relatif menarik dengan risiko yang berbeda. Kondisi tersebut dapat mendorong sebagian dana keluar dari emas, terutama ketika dolar AS juga menguat.

Inilah alasan mengapa penurunan ekspektasi kenaikan suku bunga belum otomatis menghasilkan reli baru. Investor masih harus melihat pergerakan yield dan dolar secara bersamaan untuk memastikan apakah kondisi makro benar-benar mendukung emas.

Hormuz Tetap Jadi Penopang Safe Haven

Di sisi lain, risiko geopolitik masih memberikan fondasi kuat bagi harga emas. Ketegangan di Timur Tengah, khususnya perkembangan terkait Amerika Serikat, Iran, dan Selat Hormuz, tetap menjadi perhatian pasar.

Setiap eskalasi baru berpotensi mengganggu jalur perdagangan energi dan mendorong harga minyak kembali naik. Jika harga energi meningkat tajam, risiko inflasi juga dapat kembali muncul dan mengubah perhitungan pasar terhadap kebijakan The Fed.

Situasi tersebut menciptakan paradoks bagi emas. Kenaikan risiko geopolitik mendukung permintaan safe haven, tetapi lonjakan inflasi akibat energi dapat mendorong bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi. Karena itu, respons emas terhadap perkembangan Hormuz akan sangat bergantung pada bagaimana pasar menilai dampaknya terhadap inflasi dan kebijakan moneter.

Pembelian Bank Sentral Menjaga Permintaan

Selain faktor makro dan geopolitik, permintaan struktural juga masih menjadi penopang emas. Pembelian bank sentral, terutama dari China, membantu menjaga minat terhadap logam mulia meskipun harga mengalami volatilitas tinggi.

Emas juga telah pulih cukup signifikan dari area US$4.000 dalam beberapa pekan terakhir. Pemulihan tersebut menunjukkan bahwa investor masih melihat level harga yang lebih rendah sebagai peluang untuk kembali melakukan akumulasi.

Analisis Teknikal: US$4.400 Jadi Resistance

Secara teknikal, momentum kenaikan emas mulai kehilangan tenaga setelah reli tajam dalam beberapa sesi sebelumnya. Kegagalan mempertahankan harga di atas US$4.400 menjadi sinyal bahwa pasar membutuhkan konsolidasi sebelum menentukan arah berikutnya.

Area US$4.350–US$4.300 berpotensi menjadi zona support jangka pendek. Selama harga mampu bertahan di area tersebut, struktur kenaikan masih relatif terjaga.

Sebaliknya, jika emas kembali mampu menembus dan bertahan di atas US$4.400, peluang untuk menguji kembali level puncak sebelumnya akan terbuka. Penurunan peluang Fed hike dan meningkatnya kembali ketegangan di Hormuz dapat menjadi kombinasi katalis yang mendorong harga menuju level tersebut.

Outlook Harga Emas

Dalam jangka pendek, emas diperkirakan masih bergerak volatil dengan perhatian utama tertuju pada ekspektasi suku bunga The Fed, yield Treasury, dolar AS, serta perkembangan geopolitik Timur Tengah.

Fundamental emas masih cenderung konstruktif, tetapi reli sebelumnya membuat ruang untuk konsolidasi semakin terbuka. Investor perlu mewaspadai koreksi apabila harga gagal mempertahankan area US$4.300–US$4.350.

Sebaliknya, apabila ekspektasi kenaikan suku bunga September terus menurun dan ketegangan Selat Hormuz kembali meningkat, emas berpeluang mendapatkan tenaga baru untuk menguji US$4.400.

Dengan demikian, pergerakan emas pada pekan-pekan berikutnya tidak hanya akan ditentukan oleh inflasi, tetapi juga oleh kemampuan The Fed memberikan sinyal kebijakan yang jelas serta perkembangan risiko geopolitik yang dapat mengubah prospek inflasi global.

Sumber: Newsmaker.id

Tim Riset Equityworld Futures berdasarkan data pasar dan pemberitaan terbuka. Bukan rekomendasi investasi.

Layanan Resmi PT Equityworld Futures:

* Trading futures berisiko tinggi. Pastikan Anda memahami sepenuhnya risiko yang ada.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *