Gold Bertahan Menguat, Ekspektasi Fed Hike Terus Menurun
Harga Emas Kembali Mendapat Tenaga
Harga emas kembali menunjukkan ketahanan pada perdagangan Selasa (18/08), melanjutkan tren penguatan selama dua sesi berturut-turut. Spot gold bergerak di sekitar US$4.425,80 per troy ons setelah mencatat kenaikan sekitar 1,5% dalam dua sesi sebelumnya.
Penguatan tersebut menunjukkan bahwa minat beli terhadap emas mulai kembali menguat setelah sebelumnya harga menghadapi tekanan dari dolar AS dan perubahan ekspektasi kebijakan moneter Federal Reserve. Kini, pelemahan dolar dan menurunnya peluang kenaikan suku bunga menjadi katalis utama bagi bullion.
Bagi investor, perubahan ekspektasi tersebut penting karena emas merupakan aset yang tidak memberikan imbal hasil bunga. Ketika peluang kenaikan suku bunga menurun, biaya peluang memegang emas ikut berkurang sehingga daya tariknya meningkat.
Dolar AS Tertekan, Ekspektasi Fed Hike Menurun
Salah satu pendorong utama harga emas adalah pelemahan Dollar Index yang kini berada di bawah tekanan dan menyentuh level terendah sejak Mei. Pergerakan tersebut terjadi setelah serangkaian data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan tanda-tanda perlambatan.
Kondisi ini membuat pasar mulai mengurangi keyakinan bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun. Situasinya berbeda dibandingkan sepekan sebelumnya ketika kemungkinan kenaikan suku bunga masih menjadi salah satu risiko terbesar bagi emas.
Jika ekspektasi Fed hike terus menurun, tekanan terhadap emas berpotensi semakin berkurang. Pasar juga akan mencermati bagaimana pejabat The Fed membaca perkembangan inflasi dan pertumbuhan ekonomi dalam beberapa pekan ke depan.
Yield Treasury Naik, Risiko Fiskal Jadi Perhatian
Meski prospek suku bunga menjadi lebih ramah bagi emas, pasar menghadapi tantangan lain dari kenaikan yield Treasury AS. Yield obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun naik ke level tertinggi dalam hampir dua dekade.
Kenaikan yield jangka panjang mencerminkan kekhawatiran investor terhadap tingginya belanja pemerintah, meningkatnya penerbitan utang jangka panjang, serta risiko inflasi yang belum sepenuhnya hilang.
Ironisnya, kondisi tersebut tidak selalu menjadi ancaman bagi emas. Meningkatnya kekhawatiran mengenai keberlanjutan fiskal dan beban utang pemerintah dapat membuat investor kembali mencari aset lindung nilai.
Emas dengan demikian tidak hanya dipandang sebagai pelindung terhadap inflasi, tetapi juga sebagai alternatif ketika risiko fiskal dan ketidakpastian pasar meningkat.
Konflik Timur Tengah Masih Jadi Risiko
Namun, ruang kenaikan harga emas belum sepenuhnya terbuka. Risiko inflasi yang berasal dari Timur Tengah masih menjadi salah satu penghambat utama.
Presiden Donald Trump menolak memperpanjang kesepakatan sementara dengan Iran. Pada saat yang sama, pertempuran kembali meningkat di Lebanon dan gangguan pelayaran di Selat Hormuz masih menjadi perhatian pasar.
Ketegangan geopolitik tersebut berpotensi mendorong harga minyak lebih tinggi. Jika biaya energi kembali melonjak, tekanan inflasi di Amerika Serikat dapat meningkat dan pada akhirnya menghidupkan kembali ekspektasi terhadap kebijakan The Fed yang lebih ketat.
Situasi tersebut menciptakan paradoks bagi emas. Konflik geopolitik biasanya meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven, tetapi lonjakan harga energi yang memicu inflasi dapat memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi dan membatasi reli emas.
Permintaan China dan Bank Sentral Menjadi Penopang
Di luar faktor makroekonomi, permintaan investor dan pembelian bank sentral masih memberikan fondasi positif bagi harga emas. China menjadi salah satu pasar yang terus diperhatikan karena meningkatnya permintaan investor terhadap bullion.
Reli terbaru juga membawa harga emas kembali mendekati moving average 100 hari. Level teknikal tersebut menjadi penting karena sebelumnya emas berhasil menembus indikator tersebut untuk pertama kalinya sejak April.
Apabila harga mampu bertahan di atas area tersebut, momentum teknikal berpotensi semakin positif dan membuka peluang bagi emas untuk menguji level resistance berikutnya.
Risalah The Fed Jadi Penentu Berikutnya
Dengan dua hambatan utamaโdolar AS yang kuat dan ekspektasi kenaikan suku bungaโmulai mereda, sentimen terhadap emas saat ini cenderung positif. Namun, kenaikan yield jangka panjang serta risiko inflasi energi membuat ruang penguatan masih terbatas.
Fokus pasar berikutnya akan tertuju pada risalah rapat The Fed yang dijadwalkan terbit pada Rabu. Investor akan mencari petunjuk mengenai seberapa besar tekanan kenaikan suku bunga masih bertahan di internal bank sentral AS.
Jika risalah menunjukkan bahwa para pejabat The Fed mulai lebih khawatir terhadap perlambatan ekonomi dibandingkan risiko inflasi, peluang penguatan emas dapat semakin besar. Sebaliknya, sinyal hawkish berpotensi kembali mengangkat dolar dan yield sehingga membatasi kenaikan bullion.
Untuk saat ini, kombinasi dolar yang melemah, ekspektasi Fed hike yang menurun, serta permintaan safe haven membuat prospek emas tetap menarik. Namun, investor perlu mewaspadai perkembangan Selat Hormuz, harga minyak, dan arah yield Treasury sebagai faktor yang dapat menentukan apakah reli emas mampu berlanjut atau kembali menghadapi tekanan.
Sumber: Newsmaker.id
Tim Riset Equityworld Futures berdasarkan data pasar dan pemberitaan terbuka. Bukan rekomendasi investasi.
Layanan Resmi PT Equityworld Futures:
- Website Resmi
Informasi:ย Artikel ini ditulis ole
- Akun Demo Trading
- Kontak Resmi
* Trading futures berisiko tinggi. Pastikan Anda memahami sepenuhnya risiko yang ada.