Harga Emas Bertahan di US$4.660, PCE dan Pidato Warsh
Harga Emas Dekati Level Tertinggi Tiga Bulan
Harga emas kembali menunjukkan ketahanan kuat pada perdagangan Rabu (26/08), setelah mencatat kenaikan selama lima hari berturut-turut. Bullion bergerak di sekitar US$4.660 per troy ons, tidak jauh dari level tertinggi tiga bulan yang dicapai pada sesi sebelumnya.
Dalam sepekan terakhir, harga emas telah menguat lebih dari 7%. Lonjakan tersebut menunjukkan kembalinya minat investor terhadap aset safe haven di tengah meningkatnya perhatian terhadap kondisi fiskal Amerika Serikat, pergerakan yield Treasury, serta prospek kebijakan moneter Federal Reserve.
Momentum positif ini membuat emas kembali menjadi salah satu aset yang paling diperhatikan pasar. Namun, setelah kenaikan tajam dalam beberapa sesi terakhir, investor kini mulai menantikan katalis ekonomi baru yang dapat menentukan apakah reli emas masih memiliki ruang untuk berlanjut.
Buyback Treasury AS Perkuat Sentimen Bullish Emas
Salah satu faktor utama yang menopang harga emas adalah langkah Departemen Keuangan AS untuk memperbesar program buyback obligasi pemerintah dengan tenor panjang.
Kebijakan tersebut kembali menghidupkan narasi debasement trade, yaitu strategi investor untuk mencari perlindungan pada aset keras ketika muncul kekhawatiran terhadap penurunan nilai mata uang akibat tingginya utang dan defisit pemerintah.
Besarnya beban fiskal Amerika Serikat menjadi perhatian karena peningkatan utang dapat memperbesar kebutuhan pembiayaan pemerintah dalam jangka panjang. Situasi tersebut berpotensi meningkatkan kekhawatiran mengenai keberlanjutan fiskal sekaligus mengurangi daya tarik dolar AS sebagai aset penyimpan nilai.
Dalam kondisi seperti ini, emas mendapatkan keuntungan karena tidak bergantung pada kemampuan suatu pemerintah untuk membayar utang. Logam mulia juga sering digunakan sebagai lindung nilai ketika investor mulai mempertanyakan stabilitas mata uang dan kebijakan fiskal.
Yield Treasury Turun, Harga Emas Mendapat Angin Segar
Selain faktor fiskal, penurunan yield Treasury turut memberikan dukungan terhadap harga emas. Yield obligasi pemerintah AS turun sekitar 5–7 basis poin pada Selasa.
Penurunan yield menjadi katalis positif bagi emas karena logam mulia tidak memberikan bunga atau kupon. Ketika imbal hasil obligasi turun, biaya peluang memegang emas menjadi lebih rendah sehingga aset tersebut menjadi relatif lebih menarik bagi investor.
Pergerakan yield juga dipengaruhi oleh penurunan harga minyak setelah Iran dan Oman membahas pembentukan koridor maritim sementara di Selat Hormuz.
Jika jalur pelayaran dapat kembali dibuka sebagian, risiko gangguan pasokan energi global berpotensi berkurang. Kondisi tersebut kemudian menekan harga minyak dan membantu meredakan kekhawatiran pasar terhadap lonjakan inflasi.
Inflasi dan Kebijakan The Fed Jadi Perhatian
Turunnya harga minyak memiliki implikasi penting terhadap prospek kebijakan Federal Reserve. Energi merupakan salah satu komponen yang dapat memengaruhi tekanan inflasi secara luas, sehingga pelemahan harga minyak berpotensi memberikan ruang lebih besar bagi bank sentral AS untuk mempertahankan kebijakan suku bunga.
Presiden Fed Boston Susan Collins menyatakan mendukung mempertahankan suku bunga selama inflasi terus bergerak menuju target 2%.
Pernyataan tersebut menjadi sentimen positif bagi emas karena prospek suku bunga yang tidak semakin tinggi dapat mengurangi tekanan terhadap aset non-yielding.
Meski demikian, investor tetap harus berhati-hati. Harga emas yang sudah menguat lebih dari 7% dalam satu pekan membuat risiko aksi ambil untung meningkat. Setiap perubahan mendadak pada ekspektasi suku bunga atau dolar AS dapat memicu volatilitas.
PCE AS dan Kevin Warsh Jadi Katalis Berikutnya
Perhatian pasar kini beralih ke data Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat yang akan dirilis Rabu. Indikator tersebut menjadi salah satu ukuran inflasi yang sangat diperhatikan Federal Reserve dalam menentukan arah kebijakan moneter.
Jika data PCE menunjukkan tekanan inflasi yang lebih rendah dari perkiraan, ekspektasi terhadap kebijakan moneter yang lebih longgar dapat kembali menguat. Kondisi tersebut berpotensi menekan dolar dan yield Treasury sekaligus memberikan dukungan tambahan bagi harga emas.
Sebaliknya, data inflasi yang lebih tinggi dapat mendorong investor mengantisipasi kebijakan suku bunga yang lebih ketat. Dampaknya, dolar dan yield berpotensi kembali menguat sehingga membatasi kenaikan emas.
Selain PCE, perhatian besar tertuju pada pidato perdana Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed di Jackson Hole pada Jumat. Pernyataan Warsh akan menjadi sorotan karena pasar mencari petunjuk mengenai arah kebijakan moneter Amerika Serikat dalam beberapa bulan mendatang.
Prospek Harga Emas
Secara fundamental, kombinasi penurunan yield Treasury, kekhawatiran fiskal AS, pelemahan harga minyak, serta meningkatnya minat terhadap aset lindung nilai masih memberikan fondasi positif bagi harga emas.
Selama yield dan dolar tidak mengalami penguatan tajam, emas berpeluang mempertahankan momentum bullish setelah menembus level US$4.600 per troy ons.
Namun, kenaikan yang sangat cepat juga meningkatkan risiko koreksi jangka pendek. Investor perlu mencermati data PCE dan pidato Kevin Warsh karena kedua agenda tersebut berpotensi menjadi penentu arah berikutnya.
Dengan harga emas yang kini berada di sekitar US$4.660, pasar menghadapi fase penting. Jika tekanan inflasi mereda dan yield Treasury terus turun, peluang emas untuk memperpanjang reli masih terbuka. Sebaliknya, kejutan hawkish dari data ekonomi atau The Fed dapat memicu aksi ambil untung setelah reli lima hari berturut-turut.
Sumber: Newsmaker.id
Tim Riset Equityworld Futures berdasarkan data pasar dan pemberitaan terbuka. Bukan rekomendasi investasi.
Layanan Resmi PT Equityworld Futures:
- Website Resmi
Informasi: Artikel ini ditulis ole
- Akun Demo Trading
- Kontak Resmi
* Trading futures berisiko tinggi. Pastikan Anda memahami sepenuhnya risiko yang ada.