Blog

Yield Treasury Melonjak, Emas Kehilangan Daya Tarik

08:48 29 September in Gold, Market Update
0 Comments
0
0 0
Read Time:3 Minute, 25 Second

Attention

Harga emas kembali menghadapi tekanan berat pada perdagangan Selasa (29/9). Setelah terkoreksi tajam pada sesi sebelumnya, logam mulia kini bergerak di sekitar US$4.125 per troy ounce. Penurunan hampir 4% pada Senin membuat harga emas menyentuh level terendah dalam tujuh pekan.

Pelemahan harga emas terjadi ketika investor menghadapi kombinasi tekanan dari kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS), kekhawatiran inflasi, serta ketidakpastian hubungan AS dan Iran. Kondisi tersebut membuat daya tarik emas sebagai aset lindung nilai semakin berkurang.

Salah satu faktor utama yang menjadi perhatian pasar adalah perkembangan terkait Selat Hormuz. Kebuntuan antara Washington dan Teheran mengenai pembukaan kembali jalur perdagangan energi strategis tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa gangguan pasokan energi dapat berlangsung lebih lama.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya menolak proposal Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari. Keputusan tersebut membuat pasar kembali memperhitungkan potensi gangguan terhadap pasokan energi global.

Yield Treasury AS Jadi Beban Baru untuk Emas

Interest

Ketidakpastian mengenai pasokan energi menjadi perhatian karena kenaikan harga minyak dapat meningkatkan tekanan inflasi global. Jika harga energi bertahan tinggi, bank sentral memiliki ruang yang lebih terbatas untuk melonggarkan kebijakan moneter.

Bagi emas, situasi tersebut menjadi tantangan tersendiri. Ketika inflasi berpotensi bertahan tinggi, investor justru dapat mengantisipasi kebijakan suku bunga yang lebih ketat dari The Federal Reserve (The Fed).

Tekanan tersebut semakin terasa di pasar obligasi AS. Aksi jual Treasury semakin dalam setelah perkembangan terbaru mengenai AS dan Iran, sehingga mendorong imbal hasil obligasi naik di berbagai tenor.

Yield Treasury AS tenor 10 tahun bahkan mencapai level tertinggi dalam 19 tahun. Kenaikan yield membuat aset berbunga menjadi relatif lebih menarik dibandingkan emas yang tidak memberikan imbal hasil secara langsung.

Pergerakan yield Treasury menjadi salah satu indikator penting bagi harga emas. Ketika imbal hasil obligasi meningkat, biaya peluang untuk memegang emas juga ikut naik. Investor yang sebelumnya mengalokasikan dana ke logam mulia dapat mempertimbangkan aset berbunga sebagai alternatif.

Kondisi ini menjelaskan mengapa emas kesulitan mempertahankan level harga tinggi meskipun ketegangan geopolitik masih berlangsung.

Peluang Kenaikan Suku Bunga The Fed Kembali Menguat

Desire

Selain pergerakan Treasury, perhatian pasar kini tertuju pada kebijakan moneter The Fed. Setelah menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya sejak 2023, bank sentral AS juga memberikan sinyal bahwa pengetatan tambahan masih mungkin dilakukan.

Ekspektasi tersebut menjadi salah satu faktor yang membebani emas sepanjang September. Harga logam mulia tercatat turun sekitar 7% sepanjang bulan ini, menunjukkan perubahan sentimen investor yang cukup signifikan dibandingkan reli emas sebelumnya.

Pasar saat ini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober berada di kisaran 70%. Jika ekspektasi tersebut semakin kuat, dolar AS dan yield Treasury berpotensi kembali mendapatkan dukungan.

Bagi emas, kombinasi dolar yang kuat dan yield tinggi dapat menjadi hambatan karena keduanya meningkatkan biaya peluang kepemilikan logam mulia.

Namun, arah emas belum sepenuhnya ditentukan. Investor masih menunggu sejumlah data ekonomi penting AS yang dapat mengubah ekspektasi terhadap kebijakan The Fed.

PCE dan NFP Jadi Penentu Berikutnya

Action

Perhatian pasar selanjutnya akan beralih pada data Personal Consumption Expenditures (PCE) yang akan dirilis pada Rabu serta laporan Non-Farm Payrolls (NFP) pada Jumat.

Data PCE menjadi penting karena memberikan gambaran mengenai tekanan inflasi yang dihadapi ekonomi AS. Apabila inflasi tetap tinggi, pasar dapat kembali memperkuat ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga tambahan.

Sementara itu, NFP akan memberikan gambaran mengenai kondisi pasar tenaga kerja AS. Data tenaga kerja yang kuat dapat memperbesar ruang bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.

Sebaliknya, jika inflasi mulai mereda dan pasar tenaga kerja menunjukkan pelemahan, tekanan terhadap emas dapat berkurang. Penurunan ekspektasi kenaikan suku bunga berpotensi mengurangi daya tarik Treasury dan memberikan ruang bagi harga emas untuk melakukan pemulihan.

Dengan demikian, pergerakan emas dalam beberapa hari ke depan akan sangat bergantung pada kombinasi yield Treasury, dolar AS, harga energi, serta data ekonomi Amerika Serikat.

Untuk saat ini, emas masih berada dalam fase tertekan setelah penurunan tajam. Investor perlu mencermati respons harga di sekitar level US$4.100 serta perkembangan yield Treasury sebelum menentukan arah perdagangan berikutnya.

Kenaikan yield yang berlanjut dapat mempertahankan tekanan terhadap emas. Sebaliknya, perubahan ekspektasi kebijakan The Fed setelah rilis PCE dan NFP berpotensi menjadi katalis penting bagi pergerakan logam mulia selanjutnya.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *