Blog

Emas Tembus US$4.070, Kemenangan Demokrat Tekan Dolar AS

09:21 05 November in Gold, Market Review
0 Comments
0
0 0
Read Time:3 Minute, 53 Second

Harga emas dunia kembali menunjukkan kekuatan pada perdagangan Kamis (5/11/2026). Logam mulia tersebut berhasil menembus US$4.070 per troy ounce setelah mencatat lonjakan harian terbesar sejak Agustus. Pergerakan ini menjadi sinyal positif bagi pasar emas setelah harga sebelumnya mengalami tekanan tajam selama beberapa bulan.

Emas spot naik 0,2% menjadi US$4.070,10 per troy ounce. Kenaikan tersebut melanjutkan lonjakan 3,3% pada sesi sebelumnya. Pelemahan dolar AS dan turunnya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat menjadi faktor utama yang mendorong penguatan harga emas.

Namun, ada faktor politik yang ikut menjadi perhatian pasar. Kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela Amerika Serikat membuat partai tersebut mengambil kendali atas kedua kamar Kongres. Perubahan peta politik Washington meningkatkan ketidakpastian mengenai arah kebijakan ekonomi pemerintahan Presiden Donald Trump.

Dolar AS Tertekan, Emas Mendapat Angin Segar

Pelemahan dolar AS menjadi salah satu katalis utama bagi harga emas. Indeks dolar Bloomberg tercatat melemah 0,4%, sekaligus mencatat penurunan harian terbesar dalam dua bulan.

Kondisi tersebut memberikan keuntungan bagi emas yang diperdagangkan dalam denominasi dolar AS. Ketika nilai dolar melemah, emas menjadi relatif lebih murah bagi investor yang menggunakan mata uang lain. Permintaan terhadap logam mulia pun berpotensi meningkat.

Selain itu, imbal hasil obligasi Treasury AS juga mengalami penurunan. Kondisi ini penting bagi pasar emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil atau bunga seperti obligasi.

Ketika yield Treasury turun, biaya peluang untuk memegang emas menjadi lebih rendah. Investor yang sebelumnya memilih instrumen berbunga dapat kembali mempertimbangkan emas sebagai aset lindung nilai dan penyimpan nilai.

Kemenangan Demokrat Tambah Ketidakpastian Kebijakan Trump

Hasil pemilu sela Amerika Serikat menjadi perhatian penting bagi pelaku pasar. Kendali Partai Demokrat atas Dewan Perwakilan Rakyat dan Senat berpotensi membatasi sejumlah agenda ekonomi pemerintahan Trump.

Pasar mulai memperkirakan adanya hambatan terhadap rencana pemotongan pajak serta peningkatan belanja pemerintah. Perubahan ekspektasi fiskal tersebut kemudian memengaruhi pergerakan dolar dan obligasi AS.

Bagi emas, ketidakpastian kebijakan dapat menjadi katalis positif. Investor cenderung mencari aset alternatif ketika prospek ekonomi, fiskal, maupun politik sulit diprediksi.

Dengan demikian, penguatan emas kali ini tidak hanya dipicu faktor moneter. Perubahan keseimbangan politik di Washington juga menjadi bagian penting dari sentimen pasar.

Harga Minyak Turun, Tekanan Inflasi Mulai Mereda

Faktor lain yang memberikan dukungan terhadap emas adalah penurunan harga minyak dunia. Brent bahkan sempat turun di bawah US$100 per barel pada Rabu, level yang sebelumnya tidak terlihat sejak awal Oktober.

Penurunan harga minyak terjadi setelah Presiden Trump meredakan kekhawatiran mengenai kemungkinan serangan militer lanjutan terhadap Iran.

Harga energi yang lebih rendah berpotensi membantu mengurangi tekanan inflasi global. Jika inflasi semakin terkendali, tekanan terhadap bank sentral untuk mempertahankan suku bunga tinggi juga dapat berkurang.

Situasi tersebut menjadi positif bagi emas. Pasalnya, kebijakan moneter yang lebih longgar biasanya meningkatkan daya tarik aset tanpa bunga seperti emas.

Meski begitu, emas masih menghadapi tantangan besar. Harga logam mulia tersebut sebelumnya telah merosot lebih dari 20% sejak konflik AS-Iran pecah pada akhir Februari. Lonjakan harga energi dan kebijakan moneter yang ketat menjadi faktor yang menekan emas dalam periode tersebut.

NFP AS Jadi Penentu Arah Emas Berikutnya

Perhatian pasar kini beralih ke laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat atau Non-Farm Payrolls (NFP) yang dijadwalkan terbit Jumat (6/11/2026).

Data tersebut akan menjadi salah satu indikator penting bagi Federal Reserve atau The Fed dalam menentukan arah kebijakan suku bunga. Pasar akan mencermati apakah pertumbuhan lapangan kerja mulai kehilangan momentum atau justru menunjukkan ketahanan ekonomi AS.

Jika NFP menunjukkan pelemahan pasar tenaga kerja dan tekanan inflasi tetap terkendali, ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter dapat meningkat. Skenario tersebut berpotensi menekan dolar dan yield Treasury sekaligus memberikan dorongan tambahan bagi harga emas.

Sebaliknya, data tenaga kerja yang kuat dapat kembali mengangkat dolar AS dan imbal hasil obligasi. Jika hal tersebut terjadi, emas berpotensi menghadapi aksi ambil untung setelah kenaikan tajam dalam dua sesi terakhir.

Emas Berpeluang Lanjut Naik, tetapi Waspadai Koreksi

Kemampuan emas bertahan di atas US$4.000 menjadi perkembangan penting bagi pasar. Level tersebut kini menjadi area psikologis yang perlu diperhatikan investor setelah harga mengalami tekanan dalam beberapa bulan sebelumnya.

Kombinasi dolar AS yang melemah, yield Treasury yang turun, ketidakpastian politik Washington, serta meredanya harga minyak memberikan fondasi positif bagi pemulihan emas.

Namun, kenaikan harga emas belum sepenuhnya aman. Data NFP akan menjadi ujian berikutnya. Pasar dapat bergerak cepat jika angka ketenagakerjaan berbeda jauh dari ekspektasi.

Jika data ekonomi AS melemah, peluang emas melanjutkan penguatan menuju level yang lebih tinggi semakin terbuka. Sebaliknya, data yang kuat dapat memicu penguatan dolar dan mendorong emas kembali terkoreksi.

Dengan demikian, harga emas hari ini berada dalam fase pemulihan yang menarik. Tembusnya US$4.070 menjadi sinyal bahwa momentum bullish mulai kembali, tetapi keberlanjutan tren tersebut tetap bergantung pada data ekonomi AS dan arah kebijakan The Fed.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *