Harga Emas Turun di Bawah US$4.000, Konflik AS-Iran dan Ancaman Inflasi Tekan XAU/USD
Harga emas dunia kembali mengalami tekanan pada perdagangan Senin (20/07) setelah gagal bertahan di atas level psikologis US$4.000 per troy ounce. Pelemahan ini membuat logam mulia semakin dekat dengan level terendah dalam sembilan bulan terakhir, dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang justru mendorong lonjakan harga minyak.
Kenaikan harga energi memicu kekhawatiran bahwa inflasi global dapat kembali meningkat. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar memperkirakan Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama atau bahkan kembali menaikkan suku bunga. Kombinasi faktor tersebut menjadi sentimen negatif bagi harga emas dalam jangka pendek.
Konflik AS-Iran Memanas, Harga Minyak Melonjak
Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah militer Amerika Serikat mengumumkan serangan udara baru terhadap Iran pada Minggu. Operasi tersebut dilakukan sebagai respons atas tewasnya tiga personel militer AS dalam serangan sebelumnya.
Di sisi lain, pemerintah Iran menyatakan bahwa gencatan senjata dengan Amerika Serikat secara efektif telah berakhir. Pernyataan tersebut semakin memperbesar risiko konflik berkepanjangan di kawasan yang selama ini menjadi pusat pasokan energi dunia.
Situasi semakin memanas setelah Iran mengklaim telah mencegat empat kapal yang melintasi Selat Hormuz selama akhir pekan. Jalur laut tersebut merupakan salah satu rute distribusi minyak paling penting di dunia sehingga setiap ancaman terhadap keamanan kawasan langsung memengaruhi harga energi global.
Akibat meningkatnya risiko gangguan pasokan, harga minyak dunia kini telah melonjak sekitar 30% dibandingkan titik terendah yang tercatat pada awal Juli. Lonjakan tersebut langsung memicu kekhawatiran baru terhadap inflasi global.
Kekhawatiran Inflasi Menekan Prospek Harga Emas
Dalam kondisi normal, meningkatnya ketegangan geopolitik biasanya menjadi katalis positif bagi emas karena investor mencari aset safe haven. Namun kali ini situasinya berbeda.
Lonjakan harga minyak justru memicu ekspektasi inflasi yang lebih tinggi. Jika inflasi kembali meningkat, bank sentral diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama untuk menjaga stabilitas harga.
Emas merupakan aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Ketika suku bunga meningkat, biaya peluang memegang emas ikut bertambah sehingga investor lebih tertarik pada instrumen berbunga seperti obligasi pemerintah Amerika Serikat.
Akibatnya, permintaan emas menjadi terbatas meskipun risiko geopolitik sedang meningkat.
The Fed Beri Sinyal Kebijakan Tetap Ketat
Sentimen negatif terhadap emas juga datang dari pernyataan Presiden Federal Reserve Cleveland, Beth Hammack. Ia mengingatkan bahwa tekanan inflasi masih menjadi risiko utama sehingga bank sentral belum dapat merasa tenang terhadap perkembangan harga konsumen.
Komentar tersebut membuat pelaku pasar kembali merevisi ekspektasi arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
Berdasarkan proyeksi terbaru pasar, peluang The Fed menaikkan suku bunga pada pertemuan September meningkat menjadi sekitar 53%. Angka tersebut naik dari sekitar 47% sehari sebelumnya.
Perubahan ekspektasi tersebut ikut memperkuat dolar Amerika Serikat sekaligus mendorong kenaikan imbal hasil obligasi Treasury. Kedua faktor tersebut selama ini dikenal sebagai penghambat utama kenaikan harga emas.
Dolar AS dan Yield Treasury Jadi Faktor Penentu
Selain perkembangan konflik Timur Tengah, pergerakan dolar AS dan yield Treasury akan menjadi indikator penting yang menentukan arah XAU/USD dalam beberapa hari ke depan.
Apabila dolar terus menguat, harga emas berpotensi menghadapi tekanan tambahan karena logam mulia menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.
Sementara itu, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS membuat investor memperoleh keuntungan lebih menarik dari aset pendapatan tetap dibandingkan menyimpan emas.
Kombinasi kedua faktor tersebut berpotensi membuat emas semakin sulit kembali bertahan di atas level psikologis US$4.000 per troy ounce.
Safe Haven Masih Memberikan Penopang
Meski tekanan fundamental masih cukup besar, peluang penurunan emas yang terlalu dalam tetap relatif terbatas.
Konflik antara Amerika Serikat dan Iran masih menyimpan risiko eskalasi sewaktu-waktu. Ancaman terhadap Selat Hormuz juga dapat meningkatkan ketidakpastian pasar global sehingga sebagian investor tetap mempertahankan kepemilikan emas sebagai aset lindung nilai.
Dengan kata lain, fungsi emas sebagai safe haven masih berpotensi memberikan bantalan ketika sentimen risiko kembali memburuk.
Prospek Harga Emas Jangka Pendek
Untuk jangka pendek, arah pergerakan harga emas masih akan sangat dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yakni perkembangan konflik AS-Iran, pergerakan harga minyak, dan ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed.
Selama harga minyak bertahan tinggi dan kekhawatiran inflasi belum mereda, peluang The Fed mempertahankan kebijakan moneter ketat akan tetap besar. Kondisi tersebut berpotensi menjaga tekanan terhadap XAU/USD.
Namun apabila ketegangan geopolitik semakin meluas hingga meningkatkan permintaan aset safe haven secara signifikan, harga emas memiliki peluang untuk bangkit meskipun dibatasi oleh penguatan dolar AS dan kenaikan yield Treasury.
Investor kini akan mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah serta berbagai data ekonomi Amerika Serikat sebagai petunjuk mengenai arah kebijakan The Fed dan prospek pergerakan harga emas pada pekan ini.
Tim Riset Equityworld Futures berdasarkan data pasar dan pemberitaan terbuka. Bukan rekomendasi investasi.
Layanan Resmi PT Equityworld Futures:
- Website Resmi
Informasi:Β Artikel ini ditulis ole
- Akun Demo Trading
- Kontak Resmi
* Trading futures berisiko tinggi. Pastikan Anda memahami sepenuhnya risiko yang ada.