Emas Dekati US$4.300! Reli Empat Hari Beruntun
Harga emas dunia kembali menunjukkan performa impresif pada perdagangan Asia Kamis (6/8). Logam mulia ini melanjutkan reli selama empat hari berturut-turut dan semakin mendekati level psikologis US$4.300 per troy ons. Penguatan tersebut memperkuat optimisme investor bahwa tren bullish emas masih belum berakhir.
Emas spot bergerak menuju US$4.283 per troy ons setelah melonjak lebih dari 4% pada sesi sebelumnya. Secara mingguan, kenaikan emas telah mencapai hampir 6%. Sementara itu, emas spot ditutup di US$4.253,36 pada perdagangan Rabu, sedangkan kontrak berjangka Desember berakhir di US$4.305,20.
Kenaikan ini kembali menempatkan harga emas dunia menjadi perhatian utama investor yang mencari aset aman di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Kesepakatan Hormuz Jadi Pemicu Reli Harga Emas
Penguatan emas dipicu oleh perkembangan positif di kawasan Timur Tengah. Iran dan Oman mencapai kesepakatan mengenai jalur pelayaran sementara di Selat Hormuz. Kesepakatan tersebut memberikan harapan bahwa sebagian arus distribusi minyak dunia dapat kembali berjalan.
Prospek membaiknya pasokan minyak membuat harga energi lebih stabil. Kondisi tersebut membantu meredakan kekhawatiran inflasi global yang selama beberapa bulan terakhir menjadi perhatian pasar.
Dengan risiko inflasi yang mulai menurun, pelaku pasar kini memperkirakan Federal Reserve hanya akan menaikkan suku bunga satu kali hingga akhir tahun. Sebelumnya, ekspektasi pasar mengarah pada dua kali kenaikan suku bunga.
Ekspektasi suku bunga yang lebih rendah menjadi kabar baik bagi emas. Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil, emas biasanya lebih diminati ketika tingkat bunga diperkirakan tetap rendah atau mulai turun.
Risiko Geopolitik Belum Sepenuhnya Hilang
Meski demikian, pasar belum sepenuhnya merasa aman. Kesepakatan di Selat Hormuz masih bersifat sementara dan belum menjamin jalur pelayaran akan kembali normal sepenuhnya.
Rancangan tersebut diperkirakan hanya berlaku antara 60 hari hingga empat bulan. Selain itu, sejumlah persoalan penting masih belum terselesaikan.
Beberapa isu yang masih menjadi perhatian meliputi biaya transit kapal, mekanisme pengawasan pelayaran, blokade terhadap pelabuhan Iran, hingga dukungan dari Garda Revolusi Iran.
Selama berbagai persoalan tersebut belum menemukan solusi permanen, risiko gangguan distribusi minyak masih tetap ada. Jika implementasi kesepakatan mengalami hambatan, harga minyak dapat kembali melonjak dan memicu volatilitas di pasar emas.
Inilah alasan mengapa investor masih mempertahankan kepemilikan emas sebagai aset lindung nilai.
Data Tenaga Kerja Amerika Serikat Melemah
Selain faktor geopolitik, data ekonomi Amerika Serikat juga memberikan dorongan tambahan bagi harga emas.
Laporan ADP menunjukkan perusahaan swasta hanya menambah 44.000 tenaga kerja sepanjang Juli. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan perkiraan pasar sebesar 70.000 pekerjaan.
Di sisi lain, komponen ketenagakerjaan dalam survei ISM Services turun ke level 47,4. Posisi tersebut berada di bawah angka 50 yang menandakan kontraksi lapangan kerja di sektor jasa.
Walaupun aktivitas sektor jasa masih menunjukkan ekspansi, perlambatan pasar tenaga kerja meningkatkan harapan bahwa The Fed tidak akan terlalu agresif menaikkan suku bunga.
Kini perhatian investor tertuju pada laporan Non-Farm Payroll (NFP). Konsensus pasar memperkirakan ekonomi Amerika Serikat menciptakan sekitar 80.000 pekerjaan baru pada Juli dengan tingkat pengangguran bertahan di 4,2%.
Data tersebut akan menjadi penentu arah pergerakan emas dalam jangka pendek.
Ancaman Inflasi Masih Membayangi
Meski pasar mulai mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga, ancaman inflasi belum benar-benar hilang.
Gubernur Federal Reserve Lisa Cook menegaskan bahwa bank sentral masih siap memperketat kebijakan moneter apabila inflasi tidak segera melandai.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa The Fed belum menutup peluang untuk kembali menaikkan suku bunga apabila tekanan harga terus meningkat.
Kekhawatiran itu diperkuat oleh lonjakan indeks harga sektor jasa yang naik ke level 70,3. Angka tersebut mencerminkan biaya produksi dan harga jasa masih mengalami tekanan yang cukup tinggi.
Selama inflasi tetap membandel, ruang bagi The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneter akan tetap terbatas.
Analisis Harga Emas: Level US$4.300 Jadi Penentu
Secara teknikal, momentum bullish emas masih terjaga selama harga mampu bertahan di atas area US$4.250 per troy ons.
Zona US$4.285 hingga US$4.300 menjadi area resistensi penting yang sedang diuji pasar. Apabila emas mampu menembus level tersebut dengan volume transaksi yang kuat, peluang kenaikan menuju US$4.330 hingga US$4.350 akan semakin terbuka.
Sebaliknya, jika emas gagal bertahan di atas US$4.300, aksi ambil untung berpotensi muncul. Koreksi pertama diperkirakan mengarah ke US$4.250, kemudian berlanjut ke area US$4.220 hingga US$4.200 sebagai zona support berikutnya.
Fokus investor kini sepenuhnya tertuju pada data NFP Amerika Serikat. Laporan tenaga kerja yang lebih lemah dari perkiraan dapat memperkuat peluang The Fed mempertahankan suku bunga, sehingga mendukung kelanjutan reli emas.
Namun, apabila data NFP jauh lebih kuat disertai pertumbuhan upah yang tinggi, dolar AS berpotensi menguat. Kondisi tersebut dapat menekan harga emas dan memicu koreksi jangka pendek.
Dengan kombinasi sentimen geopolitik, ekspektasi kebijakan moneter, serta data ekonomi Amerika Serikat, volatilitas harga emas diperkirakan masih akan tinggi. Selama bertahan di atas US$4.250, peluang emas untuk menembus level psikologis US$4.300 dan melanjutkan tren kenaikan tetap terbuka lebar.
Tim Riset Equityworld Futures berdasarkan data pasar dan pemberitaan terbuka. Bukan rekomendasi investasi.
Layanan Resmi PT Equityworld Futures:
- Website Resmi
Informasi:Β Artikel ini ditulis ole
- Akun Demo Trading
- Kontak Resmi
* Trading futures berisiko tinggi. Pastikan Anda memahami sepenuhnya risiko yang ada.