Emas Tertekan di US$4.267, Pasar Kembali Cermati
Harga emas dunia kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Jumat (25/9) pagi. Harga emas spot atau XAU/USD bergerak di sekitar US$4.267 per troy ounce, seiring meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan Federal Reserve atau The Fed pada tahun ini.
Tekanan terhadap logam mulia datang dari kombinasi penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat, serta meningkatnya kekhawatiran inflasi akibat harga minyak yang kembali menguat. Kondisi tersebut membuat daya tarik emas sebagai aset tanpa imbal hasil menjadi lebih terbatas.
Pasar kini kembali menempatkan kebijakan moneter The Fed sebagai salah satu faktor utama yang menentukan arah harga emas dalam beberapa pekan ke depan.
Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed Meningkat
Perhatian investor tertuju pada perubahan ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga The Fed. Pasar saat ini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan Oktober berada di kisaran 67,5%.
Angka tersebut meningkat dibandingkan pekan sebelumnya. Perubahan ekspektasi ini menunjukkan bahwa pelaku pasar mulai memperhitungkan kemungkinan The Fed kembali memperketat kebijakan moneter setelah keputusan suku bunga sebelumnya.
Sejumlah pejabat bank sentral Amerika Serikat juga memberikan sinyal hawkish. Mereka menilai tekanan inflasi masih cukup tinggi sehingga kebijakan moneter tambahan mungkin diperlukan untuk memastikan inflasi bergerak kembali menuju target 2%.
Bagi pasar emas, situasi tersebut menjadi tantangan. Suku bunga yang lebih tinggi biasanya meningkatkan daya tarik aset berbasis imbal hasil seperti obligasi, sementara emas tidak memberikan bunga atau kupon kepada pemegangnya.
Dolar AS dan Yield Treasury Menekan Harga Emas
Selain ekspektasi suku bunga, penguatan dolar AS turut membatasi pergerakan harga emas. Emas yang diperdagangkan dalam dolar menjadi relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya ketika nilai dolar menguat.
Kondisi tersebut dapat mengurangi permintaan terhadap emas dalam jangka pendek, terutama ketika investor juga memperoleh alternatif dengan imbal hasil lebih tinggi dari instrumen obligasi pemerintah AS.
Tekanan semakin terasa karena imbal hasil obligasi AS tenor panjang kembali naik ke level tertinggi dalam lebih dari dua dekade. Kenaikan yield mencerminkan meningkatnya perhatian investor terhadap risiko inflasi serta prospek kebijakan moneter yang lebih ketat.
Dengan yield yang tinggi, sebagian modal dapat berpindah menuju instrumen pendapatan tetap. Pergerakan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa emas kesulitan mempertahankan momentum kenaikan.
Harga Minyak Kembali Naik, Risiko Inflasi Menguat
Faktor lain yang menjadi perhatian pasar adalah kenaikan harga minyak. Belum adanya perkembangan signifikan dalam pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran membuat risiko gangguan pasokan energi masih menjadi perhatian.
Harga energi yang lebih tinggi berpotensi meningkatkan tekanan inflasi. Jika kenaikan harga minyak berlangsung lebih lama, bank sentral dapat menghadapi tantangan yang lebih besar dalam menurunkan inflasi.
Bagi The Fed, perkembangan tersebut menjadi penting karena inflasi merupakan salah satu pertimbangan utama dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.
Kekhawatiran bahwa harga energi dapat kembali mendorong inflasi membuat pasar lebih berhati-hati terhadap kemungkinan pelonggaran kebijakan moneter. Bahkan, ekspektasi kenaikan suku bunga pada Oktober justru meningkat.
Situasi ini menjadi tekanan tambahan bagi harga emas yang sebelumnya juga menghadapi penguatan dolar AS dan kenaikan yield Treasury.
Permintaan China Menjadi Penopang Harga Emas
Meski menghadapi tekanan dari faktor makroekonomi Amerika Serikat, pasar emas masih mendapatkan dukungan dari sisi permintaan fisik.
China menjadi salah satu sumber permintaan penting bagi logam mulia. Pembelian emas di negara tersebut masih relatif kuat, didorong oleh peningkatan permintaan domestik serta pembelian dari bank sentral yang kembali meningkat dalam beberapa bulan terakhir.
Permintaan fisik yang solid dapat membantu membatasi tekanan penurunan harga emas. Ketika harga mengalami koreksi, permintaan dari konsumen maupun institusi dapat menjadi salah satu faktor yang menjaga pasar agar tidak mengalami pelemahan lebih dalam.
Selain China, ketidakpastian geopolitik juga tetap menjadi faktor pendukung bagi emas. Perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran dapat memengaruhi sentimen risiko global sekaligus harga energi.
Pergerakan Emas Selanjutnya Bergantung pada The Fed dan Geopolitik
Dengan harga emas berada di sekitar US$4.267 per troy ounce, pasar kini menghadapi persimpangan antara tekanan dari kebijakan moneter dan dukungan dari permintaan fisik serta risiko geopolitik.
Dalam jangka pendek, penguatan dolar AS, kenaikan yield Treasury, serta meningkatnya peluang kenaikan suku bunga The Fed berpotensi membuat emas tetap berada dalam tekanan.
Sebaliknya, permintaan China yang kuat dan ketidakpastian geopolitik dapat menjadi penahan pelemahan. Perubahan situasi di Timur Tengah juga berpotensi memengaruhi harga minyak dan kembali mengubah ekspektasi inflasi.
Investor selanjutnya akan mencermati pidato para pejabat The Fed serta perkembangan hubungan AS-Iran. Setiap perubahan dalam pandangan bank sentral terhadap inflasi dan suku bunga berpotensi memberikan pengaruh besar terhadap pergerakan XAU/USD.
Bagi pasar emas, kombinasi antara kebijakan The Fed, dolar AS, yield obligasi, harga minyak, dan permintaan China akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah perdagangan berikutnya.